إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَـٰهَدُواْ بِأَمۡوَٲلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
(Qs.49:15)

Merajut Sejarah Dalam Menyongsong Janji Allah

Posted by | Artikel | No Comments

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan berqabilah – qabilah supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs.49:13)

Manusia yang saat ini tersebar di permukaan bumi, pada awalnya adalah berasal dari sepasang manusia pertama yang diciptakan Allah SWT, yaitu Nabi Adam dan istrinya Hawa. Kemudian atas kehendakNya terbagi – bagi menjadi berbagai bangsa, kabilah, bahasa dan warna kulit. Kemudian pada tiap – tiap umat selalu diutus Allah RasulNya agar mereka mengikuti petunjuk hidup yang benar dan membawa keselamatan di dunia dan akhirat.

Dalam perjalanan masa, maka terciptalah jarak dan ruang antara kelompok manusia yang dapat menjadi sekat dan peluang untuk saling bermusuhan satu sama lain. Maka Allah utus RasulNya yang terakhir, Muhammad SAW, dengan risalah Islam yang mengajak manusia kepada satu tujuan hidup (mengabdi padanya), satu aqidah, dan satu syariat ibadah serta berkasih sayang menuju ketaqwaan pada Rabb (Qs. 4:1). Pada akhir perjalanan hidupnya di dunia masing – masing manusia akan mendapat penilaian dari Allah berdasarkan kemampuan berta’aruf (interaksi positif) dan kualitas ketaqwaannya.

Salah satu keistimewaan Dinul Islam adalah, bagi manusia yang telah menyatakan keislamannya maka mereka disatukan Allah hatinya dengan lantaran Al Quran (Qs.8:63), disatukan lahiriyahnya (Al hadits) sehingga laksana satu batang tubuh. Umat Islam hakikatnya tidak dapat dicerai – beraikan oleh adanya nasionalisme kebangsaan, batas – batas territorial negara, organisasi, ras, bahasa, warna kulit, bahkan status social kemasyarakatan. Belumlah sempurna iman seorang hamba Allah jika belum berupaya mencintai saudaranya layaknya cinta terhadap dirinya sendiri (Qs.49:10).

Jika Rasullah telah mempersaudarakan sahabat – sahabatnya, maka kewajiban para ulama pun demikian. Masalah firqoh (Qs.6:159) dan dalam Hadits Mahsyur merupakan ujian bagi umat Muhammad (Qs.5:48), sejauhmana mereka berupa menyelamatkan dirinya dan saudaranya menuju kehidupan Al Jamaah yang digambarkan Rasulullah SAW. Kelak di akhirat Allah semata yang memberikan penilaian bahwa kita termasuk golongan yang selamat (Al Jamaah) atau golongan yang celaka.

Dalam keterangan Al Quran (Qs.9:33) dan Hadits Rasulullah Riwayat Ahmad dari At Tsauban dan Syaddad bin Aus, bahwa di akhir zaman Islam akan tegak (jaya) dengan kehendakNya sehingga manusia hanya dibedakan menjadi dua golongan (mukmin yang mulia dan kafirin yang dihinakanNya). Antara lain maknanya masalah firqoh – firqoh dalam Islam akan diselesaikanNya dengan datangnya Khilafah ‘ala Minhaj An Nubuwah. Tugas kita selaku hamba Allah saat ini Antara lain adalah ‘Fastabiqul Khairat’ (Qs.5:48), yaitu saling berlomba untuk beramal dan isi mengisi dalam semangat persaudaraan bukan untuk merendahkan apalagi memberi gelaran yang buruk bagi saudara muslim yang sedang berjihad (Qs.49:11-12) apalagi bertengkar satu sama lain (Qs.8:45-46). Jika larangan ini dilanggar maka hilanglah semangat juang kita dan gentarlah hati kita terhadap musuh – musuh Islam.

Mengenal Potensi Umat dalam Rangka Berta’aruf

Sejarah mencatat bahwa Nabi Ibrahim sebagai bapaknya para Nabi menurunkan dua bangsa besar yang membawa obor petunjuk dan mempelopori dalam kemajuan umat. Bangsa itu tidak lain Israil (Bani Ya’qub) dan Arab (Bani Ismail) yang diberikan Allah nikmat yang besar dengan diutusnya para Nabi dan Rasul dari tengah – tengah mereka.
Khusus Bani Israil telah usailah amanah kepemimpinan atas mereka atas ketetapan Allah melalui Rasulullah Isa a.s (Qs.43:61). Maka Bani Ismail selanjutnya memegang tongkat estafet risalah Dinullah dengan diutusnya Rasul terakhir Muhammad SAW, kemudian dilanjutkan para sahabatnya, ulama, dan Al Mahdy di akhir zaman (HR.Abu Dawud).

Potret Negeri Arab Saat Ini

Masalah kapan dan dimana awal munculnya kejayaan Islam dan Al Mahdy adalah sepenuhnya rahasia dan hak prerogrativ Allah SWT. Namun kita hanya diberintahkan berjihad, shabar, dan ikhlas menuju janji tersebut (Qs.47:31) sehingga berharap tercatat olehNya sebagai syuhada (Qs.3:53).
Jika kita melihat potret negeri muslim di Jazirah Arab saat ini tentu sangat prihatin dan menyedihkan. Perpecahan dan pertikaian sudah sedemikian rupa sehingga dengan mudahnya melanggar hal yang diharamkan Allah untuk direngggut tanpa alasan yang haq. Kehormatan, darah, dan harta muslim semestinya dijaga namun sebaliknya terjadi. Sementara orang kafir menikmati tontonan ini sambil menikmati suguhan berupa kekayaan alam yang mereka rampas dari negeri – negeri muslim.
Namun musibah ini sebagai ujian bagi hamba – hambaNya yang mau rujuk dan menginsafi diri. Kita dapat berbuat amal yang terbaik dengan menepati perintah Islah (mendamaikan) antara saudara yang bertengkar (Qs.49:10). Salah satu point yang ingin dicapai dalam rencana Mudzakarah Ulama nantinya adalah agar dunia Islam dapat berdamai sehingga berada dalam satu shaff perjuangan menuju Janji Kejayaan Islam (Qs.2:208).

Potensi Umat Muslim di Nusantara / Melayu

Kita tidak akan mengajak pembaca kepada suatu semangat Ashobiyah terhadap bangsa dan negeri atau kelompok tertentu, namun membaca potensi kita selaku muslim yang dimunculkan di sebuah negeri yang bukan Darul Harb secara fisik. Walupun negeri muslim di Nusantara juga tak kurang kehancuran aqidah dan akhlaqnya sebagai lanjutan penjajahan fisik yang dilakukan orang – orang kafir tempo dulu. Namun paling tidak kita masih leluasa untuk bermusyawarah, munadhrah, dan mudzakarah dalam mengentaskan permasalahan manusia.

Adanya ormas – ormas Islam, jama’ah – jama’ah harakah, lembaga – lembaga yang mengurusi nasab, pondok – pondok pesantren adalah potensi luar biasa dalam merangkai kekuatan Umat Islam. Kita seharusnya memandang positif dan optimis terhadap aneka ragam potensi kekuatan ini dan menjauhi berburuk sangka. Selama yang dibawa adalah apa yang dibawa Rasulullah SAW, maka adalah saudara kita, tinggal lagi bertoleransi dan bertausiyah satu sama lain.

Sebagai contoh kecil, dengan adanya Rabithoh Alawiyah dan Rabithoh al Azmathkhan yang memilki jaringan jamaah di Asia Tenggara bahkan ke Jazirah Arab merupakan suatu jembatan bagi langkah menyatukan potensi Umat Islam. Kedua organisasi ini konsen dalam mengurusi nasab umat Islam yang terhubung sampai kepada sahabat Rasulullah, Ali bin Abi Tholib. Sejarah mencatat bahwa banyak para ulama yang datang ke nusantara berasal dari keluarga ini. Dengan demikian jika merekapun ingin meneladani datuk – datuk mereka dahulu sebagai penyuluh umat, maka mereka lebih berhak untuk mengambil tugas tersebut.

Mari kita ajak mereka kepada suatu pembuktian kecintaan pada Rasulullah dan Ahlul Baitnya dengan mengikuti jejaknya sebagai penyuluh, perekat dan mujahid dalam langkah – langkah yang benar. Bersholawat kepada nabi berarti menyiapkan diri sebagai muttabi’ Rasul, bukan hanya ucapan atau berbangga dengan nasab, karena di akhirat nasab tiada nilai jika tiada ketaqwaan.

Adanya pondok – pondok pesantren (insantri) yang mengajarkan Iman, Islam, Islam harus dikembalikan khithahnya sebagai lembaga yang mencetak kader ulama dan mujahid yang dahulu memandu umat dalam melawan penjajahan asing. Tiada potensi yang sia – sia dalam tiap pribadi muslim jika masing – masing mengutamakan Islam di atas kepentingan pribadi dan kelompok. Wallahu’alam. (bdp)

Koreksi Ilmiah Terhadap Politik

Posted by | Artikel | No Comments

Istilah politik dengan siyasah umumnya ditafsirkan sama saja makna antara keduanya, hanya berbeda sumber bahasanya saja. Hanya saja jika secara cermat diteliti, maka jelas diantara keduanya terdapat sifat antagonistic.

Keberadaan Sifat Antagonistic
Sesungguhnya “politik” yang dicetuskan Plato murid Socrates pada 400 tahun sebelum masehi, berpijak dari sejarah Yunani kuno yang diangkat pemerintahan bangsa Eropa (barat) sebagai falsafah hidup dengan Plato sebagai guru besarnya. Maka juga berarti penentangan terhadap Filsafat Plato sebagai serangan terhadap basis kultur dan filsafat barat (western). Inti ajaran plato adalah superioritas kaum pria, inferioritas kaum wanita, dan pelecehan terhadap kaum terdidik (pemuka agama ; pemimpin persatuan dagang). Konsep inilah yang menjadi dasar berdirinya PBB yang memisahkan antara agama dengan Negara.

Kenyataan yang pasti adalah konsep tentang kemurnian ras, sehingga bangsa-bangsa barat merasa sebagai “ras unggulan”, kemudian menindas bangsa semit dan seluruh bangsa berkulit hitam. Selain mereka dianggap makhluk kotor yang boleh dibasmi. Dengan demikian orang – orang kafir dari bangsa barat senantiasa berupaya menjajah bangsa – bangsa asia dan afrika.

Demikianlah sebuah kenyataan berdasarkan fakta sejarah, oleh karena itu langkah perjuangan Umat Islam wajib menapakkan kakinya pada kaidah siyasah dan bukan filsafat politik. Kita tidak boleh melupakan fakta sejarah, sehingga dengan itu dapatlah kita meletakkan kedudukan Al Quran secara benar.

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Al Quran) ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa. (Qs.3:137-138)

Pengkajian Siyasah
Berdasarkan petunjuk Al Quran Surah Al Hajj ayat 78 dan Al Jatsiyah ayat 18, serta Al Hadits tentang Ra’un, maka dalam pengkajiannya sebagai berikut:
A. Siyasah berasal dari kata “sa-sa ; yasu-su; siya-satan”, atau sejalan dengan perkataan “sa-isun” jamaknya “sa-satun”, artinya : yang mengembala ; yang memimpin.

B. Murodlibnya adalah :
Tadbi-run : menjadikan merdeka dan dipelihara; mengatur
Ida-ratun, tashrif dari “da-ra” : beredar; melengkung (Al Hadits)
Ra-un : Pemimpin; pengembala (Al Hadits)

C. Berdasarkan HR. Muslim 1842 dan Bukhari 3455 pada kata “tasu-suhum al anbiya”. Bahwa siyasah yang diterapkan nabi-nabi pada Bani Israil bersumber dari wahyu Allah sudah ada sebelum ide politik Plato, bukan buah fikiran dan nafsu manusia (filsafat).

D. Kenyataan pada perjuangan panjang partai-partai politik Islam di Aljazair, Mesir, Palestina, Indonesia, Malaysia, dan banyak lagi sangat mudah dipecah belah dan “digulung” oleh makarnya kafirin dan munafiqin seolah tanpa ada pertolongan dan pembelaan dari Allah sang pemilik aturan Islam.

Dengan demikian, kepemimpinan di dalam Islam diatur berdasarkan Hukum Islam, yaitu Al Quran dan Al Hadits shahih. Dengan itu pula dalam menetapkan system perjalannya wajib diatur berdasarkan Hukum Islam (Qs.25:52), maka inilah yang disebut siyasah.

Oleh karena itu, dalam system siyasah tidak mungkin terjadi bentuk pemerintahan Negara monarchy, aristocracy, oligarchy, plutocracy, ataupun democracy. System pemerintahan demikian itu pada intinya hanya membangun kekuasaan manusia atas manusia, kemudian secara pasti perjalanannya menuju kepada kemurkaan Allah (Qs.4:51-53). Wallahu waliyyu mukminin.

Pengaruh Hinduisme Terhadap Mythology Yunani

Posted by | Artikel | No Comments

Dalam beberapa hal dapat kita lihat persamaan dongeng atau mitos dari Hindustan dengan Yunani (Greece) termasuk dalam nama-nama pahlawan yang berasal dari bahasa sansekerta dan bahasa Greece, antara lain:

Dari Bahasa Sansekerta ke Bahasa Yunani
Hara Kala (Syiwa): Heracles
Tasha (Pengiring Syiwa): Theseus (Pengiring Heracles)
Ken-Tura (manusia kuda):Centurion
Dyaus – Pitar :Jupiter
Palasa (Perlindungan): Pallas (Dewi Kebaikan)
A-tanaia (Suci): Athena
Ma-nara-va (pemberi kekuatan): Minerva
Bala-na (angkatan perang): Bellona (Dewi Perang)
Na-pata-na (yang menguasai banjir): Neptune (Dewi Air)
Pasa-uda (yang menenangkan air): Poseidon (Dewi gempa bumi dan arus air)
Mri (pembunuh): Mars (Dewa Perang)
Plushta (Dewa Neraka): Pluto (neraka)
Pitar (bapak): Pater
Matar (ibu): Mater
Bhratar (saudara laki-laki): Frater
Kapala (kepala): Kephale
Trikona (segitiga): Trigonon
Ambu (awan – hujan): Ombros
Axas (sumbu): Axon
Acris (puncak): Akros

Nama – nama penulis terkenal

Pitha-guru (540-510 SM): Pythagoras (Ahli ilmu pasti dan filosof)
Ananga-guru (500-428 SM): Anaxagoras (filosof)
Prata-guru (585-518 SM): Protagoras (sophist)

Inilah sebagaian bukti bahwa Agama Yunani merupakan mythos yang memiliki pertalian erat dengan dongeng Hindu. Mereka mempercayai sejumlah dewa – dewa (tuhan – tuhan) yang disifatkan seperti manusia (anthropomorphic polytheism) sebagaimana dijelaskan dalam Alquran Surah Nuh ayat 23,

Dan mereka berkata: “Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwwa’, yaghuts, ya’uq dan nasr.

Berarti pula pengarus Hinduisme adalah nyata, dokumen – dokumen “suci” ini telah mempengaruhi Agama Yunani, Yahudi, dan permulaan Kristen. (IA)

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬
(Qs.3:31)