Pengajaran Al Qur-an
Dalam petunjuk firman Allah dalam Al Qur-an Surah An Nisa 64, yaitu:
"Dan Kami tidak mengutus seseorang rosul, melainkan untuk ditha'ati dengan seizin ALLAH. Sesungguhnya jikalau mereka menganiaya dirinya datang kepadamu, dan memohon ampun kepada ALLAH, dan Rosul-pun memohonkan ampun untuk mereka, Tentulah mereka mendapati ALLAH Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang."
Pada ayat tersebut terdapat lafadz yang berbunyi “liyutho-‘a bi idzillah” adalah sebagai lafadz syarikh dan muthlaq (tegas dan bersifat muthlaq). Karena itu di dalamnya terkait beberapa petunjuk, yaitu:
01. Dalam ayat tersebut Allah menggunakan perkataan ”ma-“ yang bertemu dengan “illa” yang berarti ”tidak”, maksudnya memberikan kekhususan yang tidak boleh diabaikan dalam hal amanah yang dibawanya untuk ummatnya, yaitu “Amanah Syari’ah”; Maka inilah yang dalam istilah lazim disebut dengan istilah “Thori-qotul Muhammadiyyah” [qa18s45=aljatsiyah], yaitu “Manhaj atau Sabil atau Jalan atau Sistem atau Metode Operasional”.-
02. Memberikan petunjuk isyarat, bahwa masalah ittiba’ adalah masalah yang prinsip, mengingat bahwa ketetapan Allah terhadap Ad-Din adalah “Al Kholish”, yang berarti bersih dari segala bentuk campur tangan al fikr (fikiran), al wijdan (perasaan), dan al irodah (kemauan) [qa3s39=az zumar], yang berakibat seseorang dihukumkan “al ihdats fid-din” [qa93s6=al an’am].-
03. Bahwa ber-ittiba’ hanya kepada Rasul, akan berarti mendambakan kecintaan kepada Allah [qa31s3=ali imron], karena masalah “Sabil” (jalan) [qa15s31=luqman] di dalamnya terkandung “kekuatan Al Qur-an sebagai kaidah pokok dan muthlaq” [qa153s6=al an’am], kemudian “teladan dari RasulNya” [qa21s33=al ahzab].-
Analisa
Bahwa sesungguhnya dengan mengadakan penelitian secara seksama berdasarkan kaidah Ilmu Tafsir sebagaimana yang tersebut, maka dapat dilihat secara nyata bahwa kelemahan Ummat Islam pada umumnya telah alpa dalam melaksanakan “wujud dari hasil rumusan menejemen al Qur-an” [qa153s6=al an’am] dengan “Sistem yang telah dipandukan Rasulullah”. Dalam hal ini harus diakui bahwa pada masa usai penurunan para Rasul akan terjadi berbagai kealpaan Ummat Islam terhadap ajaran Rasul, disebabkan campur tangan kaum zindiq dan munafiq untuk memalsukan ajaran Rasulullah saw, maka bagi yang tidak memahami “nilai Kebenaran Islam” akan mudah kehilangan “Sistem” dan akan mengikuti sistem yang dibuat oleh kafir. Dengan demikian ummat Islam akan mengalami berbagai kelemahan.-
Menghadapi keadaan demikian Rasulullah telah memberikan pesannya antara lain:
A. Al Hadits Sh, riwayat Thabrani melalui jalan dari Ibnu Abbas.ra, Rasulullah saw bersabda: ”sayaku-nu ba’diy fil mukmini-na aljiha-du! qo-la:” ‘ala- ma- nuja-hidu alladzi-na qo-lu- a-manna?”, qo-la: ”al-ihda-tsu fid din, idza- ‘amilu- birro’yi, wala- ro’ya fid-din, innad-dina minar robb, amirihi wanahyi-hi”.-
(:Nanti akan terjadi sesudahku menghadapi kalangan mukmin ada perintah jihad! Berkata: ”Atas apanya kami akan berjihad kepada orang-orang yang berkata “Kami beriman’?”. Bersabda: “Ada sistem baru dalam masalah ad-Din, sehingga apabila mereka bekerja berdasarkan logika (ra’yu), padahal tidak boleh campur tangan ra’yu dalam masalah ad-Din, karena sesungguhnya Ad-Din itu berasal dari Robb (Yang Mengatur). Meliputi segala perintahnya dan segala larangannya”).-
B. Al Hadits riwayat Al Hakim dari jalan Kholid bin. Urfadhoh, Rasulullah saw bersabda: ”Sataku-nu ihda-tsun, wa fitnatun, wa furqotun, wa ikhtila-fun”, fainistatho’a antaku-na almaqtul, la- alqo-til! Faf’al !”.-
(: “Nanti akan terjadi keadaan kamu terlibat dalam sistem baru, dan terfitnah, dan berpecah belah, dan berselisihan!”. Maka jika kamu mampu jadilah kamu itu orang yang dibunuh, bukan menjadi pembunuh! Maka kerjakanlah !”
Dengan yang tersebut dapat difaham bahwa kelemahan ummat Islam telah berada dalam dua sisi yang berlawanan, bahwa disatu sisi melakukan perintah beribadat mendambakan redlo Allah, akan tetapi pada sisi lain dalam tugas-tugas kemanusiaan telah mengikuti “Sistem kafir” dan melupakan ittiba’, maka sebagai akibat ummat Islam menjadi ummat yang lemah dan labil; Oleh karena itu wajib merubah sistem dan berani tegas dalam menyampaikan Kebenaran, apapun resikonya.-
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
Latest News
-
Muhibah ke Ponpes Hidayatullah Aceh Besar Pondok Pesantren Hidayatullah yang beralamat di Desa Nusa, Kecamatan Lhoknga, Aceh Besar adalah juga menjadi kantor Pusat Pimpinan Wilayah dan Daerah...
-
Sekelumit Hikmah Dibalik Tsunami Aceh Dalam perjalanan tim sosialisasi Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu di wilayah Aceh, banyak mendapatkan kisah dari saksi hidup peristiwa tsunami 6 tahun...
- 1
- 2
- 3
- 4
Latest Articles
-
Ibarat Sudah Jatuh Tertimpa Tangga Adapun istilah yang diangkat menjadi judul tulisan ini pada dasarnya terinspirasi dari kalimat dalam Al Quran yaitu ضِعْفَ yang terjemahnya (siksaan...
-
DUA AMANAH ALLAH ATAS RASULNYA Dua macam Amanah Allah atas RasulNya Muhammad Salallahu ‘Alihi Wasalam dimaksud yang harus difahami, yaitu amanah berupa “sistem beribadah kepada Allah”...
- 1
- 2
- 3
- 4
Contact Information
Komp. Yayasan AKUIS Pusat, Jl. Raya Palembang - Betung Km. 14 Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin
Palembang, Sumatera Selatan 30761
Indonesia
+62-711-432479
Fax: +62-711-432479
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Anda dapat menyalurkan infaq anda utk menunjang program panitia melalui: Bank Syari'ah Mandiri Capem 16 Ilir Palembang No. Rek: 0980010078
Site Counters
| Visits today: | 36 |
| Visits yesterday: | 111 |
| Visits this month: | 1073 |
| Visits total: | 23210 |
| Max.daily visits: | 228 |
| Max.monthly visits: | 3307 |
| - occurred: | 2010-1 |
| Pages total: | 153464 |
| Data since: | 2009-07-02 |















