Saturday, September 04, 2010
   
Text Size

BAGAIMANA CIRI KHAS 'ULAMA SU' DAN 'ULAMA SHOHIH

الحمد للهِ الّذي ارسل رسولهُ بالهدى ودين الحقِّ ليظهرهُ على الدِّين كلّه ولو كره المشركون . اللّهم صلّى على محمّد وعلى اَلِيهِ واصْحابهِ

اعوذ بالله من الشّيطان الرّجيم

ومن الناس والدّواب والانعم مختلفٌ الونه كذلك انما يخشى الله من عباده العلماء انّ الله عزيزٌ غفورٌ ـ

Artinya :

“Dan diantara manusia, dan diantara yang melata dan diantara hewan ternak yang bermacam warna dan jenisnya, sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hamba-hambaNYa adalah al-‘Ulama, (Qs.Fathir, 35 : 28)

Amma ba’du, dalam sebuah hadits riwayat Muslim bersumber dari Anas yang membayankan atau menjelaskan terhadap al Qur-an Surah Fathir ayat 28 di atas dinyatakan bahwa :

العلماء اُمناء الله على خلقهِ

("al ‘Ulama adalah pemegang amanah Allah atas makhluqnya”).
Kemudian ada juga satu lagi hadits dari sumber Anas, riwayat Muslim yang menyatakan :

العلماءُ امناء الرّسل مالن يٌخلط السلطانَ ودخل الدنياَ اذا خلط السلطان ودخل الدنيا فقد خان الرسل فاهذروهُ

(Al ‘Ulama pemegang amanah para rosul, selama ia tidak menjilat penguasa / ambisi kekuasaan, dan tidak cinta berat terhadap dunia / materialis, jika ia menjilat penguasa / ambisi kekuasaan, dan cinta berat terhadap dunia / materialis maka sungguh ia telah menghianati para rosul, maka jauhilah ia”).

Hadits ini menjelaskan al Qur-an Surah Assyura ayat 13 :

شرع لكم من الدين ما وصى به نوحآ والذي اوحينا اِليك وما وصّينا به ابراهيم وموسى وعيسى انْ اقيموا الدّين ولا تتفرّقوا فيه كبر على المشركين ما تدعوهم اليهِ الله يجتبى اليه من يشاء ويهدى من ينيب ـ

“Disyariatkan  atas  kamu ad Din, (yaitu) apa yang Kami  wasiatkan dengannya kepada Nuh, dan apa-apa yang Kami wahyukan kepadamu (Muhammad),  dan apa-apa yang Kami wasiatkan dengannya kepada Ibrahim dan Musa dan Isa, bahwa tegakkanlah ad Din dan janganlah berpecah-belah didalamnya. Berat rasanya bagi orang-orang musyrik seruan kamu atas mereka, Allah menetapkan dengan seruan itu siapa yang dikehendakiNya, dan menunjuki dengannya orang-orang yang kembali (bertaubat)”.

Sedangkan ada pula sebuah hadits yang berbunyi :

العلماءُ ورثُ الانبياءَ

(al 'ulama adalah pewaris para nabi).

Tetapi kedudukan matan atau isi hadits ini lemah (dhoif) sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, karena masalah kenabian tidaklah diwariskan.

Maka kedudukan ‘ulama adalah suatu ketetapan dari Allah bagi hamba-hambaNya yang terpilih untuk memegang amanah kerasulan, yaitu memandu ummat dengan sistem dan program yang telah dicontohkan Rosulullah menuju kebahagiaan sejati di dunia akhirat setelah Dia tidak lagi mengutus para nabi dan rosul pembawa risalah.

Berdasarkan kaidah bahasa arab, ‘ulama’ berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun (orang yang mengetahui - mufrad/singular) dan ‘ulama (jamak taksir/irregular plural).

Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Qur-an dan hadis. Namun yang sangat masyhur dalam hal ini adalah :

انّما يخش اللهَ من عبدهِ العلماءُ

(sesungguhnya yang paling takut kepada Allah diantara hambaNya adalah ’ulama).

Kata al-’ulama’ dan al-’alimun sekalipun berasal dari akar kata yang sama tapi keduanya memiliki perbedaan makna yang sangat signifikan. Perbedaan makna ini dapat ditengarai dalam Al-Qur-an ketika kata al ’ulama’ disebutkan hanya 2 (dua) kali dan kata al alimun sebanyak 5 (lima) kali, dan kata al ’alim sebanyak 13 (tiga belas) kali (lihat al-Baqi, al-Mu’jam, hlm. 603-604).            Penggunaan kata al-’ulama’ dalam Al Qur-an selalu saja diawali dengan ajakan untuk mengkaji secara mendalam terhadap esensi dan eksistensi al Khaliq serta ayat-ayatNya, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ajakan berfikir secara benar terhadap ayat-ayat Allah ini antara lain bertujuan untuk mencari sebab akibat terhadap hal-hal yang akan terjadi sehingga dapat memunculkan kaidah-kaidah baru yang bersumber dari Kitabullah. Sehingga dengan kaidah ini akan dapat dimunculkan program pengentasan permasalahan ummat. Ummat yang mengambilnya sebagai panduan maka akan selamat begitupun sebaliknya.

Kata al-’alimun diiringi dengan usainya suatu peristiwa dan Al-Qur-an menyuruh mereka untuk merenungi kejadian ini sebagai bahan evaluasi agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Contoh pada tataran ini adalah ketika Al-Qur’an mengajak al-’alimun untuk memikirkan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh umat terdahulu disebabkan dosa yang mereka lakukan (lihat Q.S. Al-’Ankabut ayat 40-43).

Penyebutan kata al-’alim dalam bentuk tunggal semuanya mengacu hanya kepada Allah dan tidak kepada selainNya. Penggunaan kata ini diiringi dengan penciptaan bumi dan langit serta hal-hal yang ghaib dan yang nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa munculnya pengetahuan manusia berbarengan dengan munculnya ciptaan-ciptaan Allah.

Bercermin kepada ayat di atas bahwa Allah menjelaskan, diantara hamba-hambaNya yang diperintahkan mengabdi kepadaNya, maka yang paling takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang telah menepati kriteria al-‘ulama.

Bila coba kita uraikan satu persatu lafadz dalam Surah Fathir ayat 28 di atas secara kaidah tafsir bil matsur (menafsirkan dengan panduan al-qur-an dan hadits shohih), maka insyaAllah akan didapati kandungan makna yang mendalam.

Pertama lafadz “yahsya” yang bermakna “takut” adalah memiliki bobot yang lebih dibanding lafadz “khoufa” yang juga bermakna takut. Coba perhatikan lafadz “khouf” dalam Surah Ali Imran ayat 139 :

"ولا تهنوا ولا تحزنوا...."

(Dan jangan kamu takut dan janganlah berduka cita..).

Takut pada ayat ini arahnya adalah rasa takut terhadap makhluq (khususnya kuffar) karena Allah telah menetapkan derajat yang mulia kepada hambanya yang beriman. ”...Wa antum al-a’launa in kuntum mukminin” (sedang kamu kamu mulia, jika kamu beriman).

Sedangkan lafadz ”yahsya” (takut) pada Surah Fathir ayat 28 adalah rasa takut kepada sesuatu yang pantas untuk ditakuti, yaitu kepada Allah Rabbul 'Ala. Munasabahnya atau persesuaian maknanya dapat kita lihat dalam surah an Nur ayat 52 :

ومن يطع الله ورسوله ويخش الله ويتّقهِ فاُ ولاءك هم الفا ءزون ـ

(Siapa yang taat kepada Allah dan Rosul, dan takut dan bertaqwa maka merekalah orang-orang yang mendapatkan kemenangan).

Maka siapa saja yang taat kepada Allah dan RasulNya karena dilandasi sifat takut, maka sifat takut ini akan mewujudkan perilaku taqwa, selanjutnya taqwa inilah yang menjadi syarat bagi seseorang untuk mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat.

Faktor atau sebab apakah yang menyebabkan seorang hamba menjadi takut kepada Allah? Sebabnya adalah karena ia mengenal kebesaran Allah. Sedangkan yang dapat mengenal kebesaranNya hanyalah hamba-hamba Allah yang diberi kefahaman ilmu yang mendalam atau disebut al ’Ulama.

Siapa Saja Yang Digolongkan Allah Sebagai ’Ulama?

Mari coba kita telusuri penjelasanNya dalam alQur-an dan hadits-hadits RasulNya mengenai derajat al-’Ulama.

Pertama... dalam surah at-Taubah ayat 128 :

لقدْ جاء كم رسولٌ من انفسكم عزيزٌ عليه ما عنتّم جريصٌ عليكم بالمؤمنين رءفٌ رّجيم ـ

“Sungguh telah didatangkan kepadamu seorang utusan dari golonganmu sendiri, terasa berat baginya apa-apa yang menimpa kamu peduli kepadamu, terhadap mukmin penyantun dan penyayang”.

Lafadz ”rosulun” (seorang utusan) adalah berbentuk ism nakhirah (umum), berbeda dengan ”al rosul” (seorang utusan) berbentuk ism makrifat (khusus). Maknanya ”rosulun” pada ayat ini dapat berarti Rosulullah Muhammad atau bisa pula artinya para ’ulama. Sedangkan ”al rosul” jelas arahnya hanya bermakna Rosulullah (Muhammad SAW).

Karena ada dua hadits riwayat Muslim dari Anas yang menjelaskan tentang keberadaan al-’Ulama, yaitu :

العلماءُ امناء الرّسل مالن يٌخلط السلطانَ .... العلماء اُمناء الله على خلقهِ

Juga satu hadits yang berbunyi :

اذا رايت عالم يخلدُ السّلطان مخلطت كثير فاعلم انهَُ لصٌ

”Jika kamu lihat seorang ’alim mendekati penguasa atau banyak campur tangan urusan penguasa, maka ketahuilah bahwa ia adalah pencuri”

Maka... jelaslah bahwa Allah tidak lagi mengutus Nabi dan Rosul setelah Rosulullah Muhammad, maka Dia meletakkan amanah kepemimpinan ummat dan makhluqNya hanya kepada al ‘Ulama, untuk memandu menuju keridhaanNya.

Kedua... dalam Surah an Nur  ayat 37,

رجالٌ لاَّ تلهيهم تجارة ولا بيعٌ عن ذكر الله واقام الصلواةِ واِيتاء الزّكوة يخافون يومآ تتقلّب فيهِ القلوب والابصرُ ـ

“Lelaki yang tidak terlena dengan perdagangan dan jual-beli dari dzikrullah, dan menegakkan sholat dan mendatangkan zakat, karena takut kepada suatu hari dibolak-balikkan hati dan pandangan”

Makna tidak terlena adalah, segala aktivitas di dunia yang tujuannya untuk kesenangan pribadi akan mampu disingkirkannya demi memenuhi seruan yang lebih utama yaitu memenuhi panggilan Allah dan rosulNya. Sehingga seluruh niat atau motivasi dan ‘amaliyah atau kerjanya dialandasi karena perintah Allah dan rosulNya.

Ketiga... dalam Surah al Baqarah ayat 207-208,

ومن النّاس من يشرى نفسه ابتغاء مرضات الله والله رءوفٌ بالباد ـ ياءيّها الذين ءامنوا ادْخلوا فى السلْم كافّة ولا تتبعوا خطوات الشّيطان انّه لكم عدُوٌّ مُّبينٌ ـ

“Dan diantara manusia ada yang mereka menjual dirinya untuk mencari keridhoan Allah, dan sungguh Allah Maha Penyantun terhadap hambaNya. Wahai orang-orang beriman, masuklah kamu kedalam kesepakatan (assilmun) secara ka-ffah (mendunia), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaithon, sesungguhnya syaithon adalah musuhmu yang nyata”.

Lafadz “assilmun” umumnya diterjemahkan sebagai Islam, namun menurut Kamus Annubuwah maknanya adalah “bentuk kesepakatan”. Maka yang dapat bersepakat secara kaffah (mendunia) bukanlah orang-orang awwam. Tetapi hanyalah para ’ulama yang telah menjual lahir-bathinnya kepada Allah. Sedangkan dalam Kitab Ilmu Tafsir al Itqon, yang disusun  Imam as Suyuthi, dinyatakan bahwa ”assilmun”  maknanya adalah ”attho’ah” (keta’atan), dan ”ka-ffah” (al jama-ah). Artinya keta’atan secara berjamaah.

Natijah (Kesimpulan)

Dari beberapa ayat dan hadits diatas dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa Allah menetapkan beberapa kriteria atau ciri khas al ‘ulama yang dapat dikenali, sedangkan seorang hambanya tidak dibenarkan memplokamirkan dirinya sebagai ‘ulama, yang dikhawatirkan menimbulkan sikap takabur. Karena kedudukan ‘ulama hanya Dia yang Maha Mengetahui dan bukan gelar dari manusia ataupun dari penguasa.

Atas dasar itulah sifat dan sikap yang dapat kita kenali dari al‘ulama antara lain :
  1. Takut untuk mengada-adakan suatu ucapan atau perbuatan atas nama perintah Allah atau rasulNya. Ia berhati-hati dalam beribadah dengan semata-mata berlandaskan kepada hujjah dari Kitabullah dan sunah rasulNya yang shohih, sehingga memunculkan ’amaliyah taqwa. (Qs.35 : 28 dan Qs. 24 :52).
  2. Menjadikan Syariat Islam sebagai satu-satunya solusi final bagi keselamatan ummat manusia sedunia(Qs.42 :13).
  3. Memiliki rasa prihatin kepada penderitaan ummat, kemudian mengupayakan suatu solusi / harish (program pengentasan ummat), karena memiliki sifat penyantun dan penyayang (Qs.9 :128).
  4. Memegang teguh amanah dari Allah berupa dan shabar / teguh pendirian terhadap godaan dan cobaan, karena rosul menjelaskan bahwa ’ulama tidak pernah melakukan hal-hal berikut : menjilat atau mencari muka kepada penguasa, ambisi jabatan, cinta berat terhadap dunia atau materialistik. Artinya segala amalnya tidak diukur dengan uang, tidak banyak ikut campur urusan penguasa apalagi berpolitik. Karena bila mereka melanggar batasan ini, maka rosul memberi julukan sebagai pencuri (li-sun) dan pengkhianat, dan ummat diperintahkan menjauh dari ’ulama syu’ ini.
  5. Mengutamakan urusan perintah Allah dengan ibadah / dzikir, menegakkan sholat dan mendatangkan zakat diatas segala urusan pribadi seperti perdagangan dan jual-beli. (Qs.24 : 37).
  6. Menyerahkan / menjual lahir-bathinnya hanya kepada Allah dengan mengharap ridhoNya bukan mengharap imbalan materi, kedudukan, dan pujian manusia. (Qs.2:207).
  7. Mengupayakan untuk membangun kesepakatan ’Ulama secara mendunia dalam menepati perintah Allah untuk menerapkan Syariat Islam secara kaffah. (Qs.2:208).
Wallahu’alam bi showab

Comments
Add New Search RSS
Ilmiyah Dong!!!
Ahmad Dicky Sofyan 05-10-2009 21:53:48

Tulisan di atas kayak sebuah tulisan terjemahan banget ya.... Apa umat Islam
seperti antum sudah gak kreatif lagi. Sampe nulis artikel soal ulama Su' aja
sistematika dan gaya bahasanya ngawur. Cobalah bung kalo nulis artikel ya mbok
yang enak dibaca... Kita kan sudah gak hidup pada zaman purba lagi. Kalo
tulisannya enak dibaca dan memiliki gaya bahasa ilmiyah substansi materi anda
kan nanti enak dipahami!!! Begitu....
susah di mengerti
maaf 05-10-2009 23:06:57

susah dimengerti ya om... mungkin karena artikelnya memang bukan artikel
ilmiah jadi kurang ilmiah gaya penulisannya, hal ini mungkin disebabkan
keberhati-hatian penulisnya dlm menjelaskan ayat agar tetap pas sesuai tuntutan
ayat, pas artinya tidak lebih dan tidak kurang, pas...karena di dlm Islam tidak
boleh kurang tetapi juga tidak boleh berlebihan (melampaui batas), oleh karena
itu untuk memahami tulisan2 terjemah (tafsir) seperti ini yg diperlukan adalah
kemampuan memahami yg di miliki oleh akal yg berada di hati, artinya memahami
itu dgn hati (Qs. 22:46), bukan dgn fikiran yg ada di otak...
mengerti dengan alat 07-10-2009 16:57:08

ayat alqur-an ada yg mudah difahami sperti ayat kauniyah (ilmiyah) tentang alam.
Adapula yang perlu difahami dengan "Ilmu alat" (mantiq,-badi', balaqhoh,
munasabah, dst). Maka bagi sdr ahmad dicky sepertinya perlu mengulas kembali
ilmu alat tsb, . Memang disinilah letak menarik dan istimewanya alqur-an untuk
dikaji. Sbg analogi : Jika seorang petani diajak bicara tentang teknik bangunan
tentang susah nyambungnya...syukron..Allahu'alam
Agar sesuai tidak harus amburadul
Ahmad Dicky Sofyan 13-11-2009 00:11:22

Saya paham betul dengan apa yang anda maksud ilmu badi', balaghah, munasabah
ayat wa suwar, dan teori-teori lain soal Alquran. Saya juga paham soal kesulitan
mencari padanan bahasa Indonesia yang pas terkait kata Alquran yang berbahasa
Arab itu. Saya juga sangat paham bahwa hati dan otak secara bersama digunakan
untuk memahami Alquran. Karena memang tidak mungkin Allah memerintahkan
hamba-Nya untuk melakukan hal diluar kemampuan manusia, seperti perintah terbang
misalnya (demikian menurut Imam al-Suyuthi). Yang saya permasalahkan adalah soal
interpretasi dan substansi persoalan yang akan anda sampaikan. Barangkali lebih
menarik jika dikemas dalam bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai EYD. Itu
saja, tidak lebih. Sekali lagi, saya tidak permasalahan terjemah Alquran. Saya
hanya terganggu dengan sistematika dan bahasa Indonesia yang digunakan untuk
menjelaskan maksud atau tafsir ayat-ayat itu. Ayolah berkreatifitas secara
kaffah, agar orang lain juga tidak bosan baca artikel yang begitu panjang itu.
Salam
alhamdulillah
mujadeed 13-11-2009 02:10:28

sebelumnya perlu saya sampaikan bahwa saya di sini bukan penulis, hanya pembaca,
dan saya sangat senang apabila ternyata ada ulama seperti Ustadz Dicky yg sudi
mampir dan memberikan sedikit pengarahan ataupun masukan sebagai bahan untuk
pengembangan content website ini ke depan. Mudah2 an masukan2 positif seperti
ini dapat terus diberikan sebagai bahan pembelajaran kami yg membaca maupun
saudara2 kita yg mengelola website ini..
terimakasih
abu naum 10-12-2009 19:48:21

wah..wah..kelihatannya ada yg rame disini, saya sangat berterima kasih sekali
dgn mas yg sudah mempostkan artikel ini, dan sangat membantu sy sbg bahan
pembuatan karya tulis. untuk mas diki, coba dalam menyampaikan kritik dan saran
hendaknnya pke tatakrama dgn bhsa yg baik, jangan sok lebih hebat, coba sedikit
menghargai karya orang lain. bukankan niat baik itu harus dibarengi dgn proses
yg baik pula????
Anonymous 12-12-2009 17:45:17




Terima Kasih
Ahmad Dicky Sofyan 15-06-2010 21:24:48

Terima kasih atas tanggapan sahabat Abu Naum alias tukang tidur dalam bahasa
Indonesia. Hehehe.... Muslim yang baik tentu adalah muslim yang siap mengkritik
dan juga dikiritik orang lain. Dan kritik -bukan kripik ya- yang meminta saya
untuk menggunakan tata bahasa dan krama yang baik harus saya terima,,, karena
pada siapa lagi saya harus minta kritik kalau bukan pada sesama hamba Allah.
Saya pastikan maaf keluar dari lisan dan hati saya. Dan semoga kritik yang
menjawab kritik pun juga bisa disampaikan dengan qaulan sadiydan. Dan semoga
semua bisa dipahami dalam kerangka cinta pada Allah, Rasul, dan risalah-Nya
(Islam). Amin... Barakallah lana wa lakum. Amin...
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B)
:evil::silly::dry::lol::kiss:
:D:pinch::(:shock::X
:side::):P:unsure::woohoo:
:huh::whistle:;):s:!:
:?::idea::arrow:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Move
-

Tafseer Qur'an

Top Headline

Petunjuk al Quran Firman Allah dalam al Quran surah Mujadilah ayat 9 dan ayat 10 sebagai berikut :   يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلا تَتَنَاجَوْا بِالإثْمِ وَالْعُدْوَانِ...

Read More...

Petunjuk Al Quran Firman Allah Subhanallah wa Ta’ala  dalam surah al A’rof ayat 145 dan ayat 146, sebagai berikut :     وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الألْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلا...

Read More...

Petunjuk FirmanNya Firman Allah dalam al Quran surah al Mukminun ayat 68 sampai dengan ayat 71, sebagai berikut : أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الأوَّلِينَ...

Read More...

Dalil Pokok Dengan memahami petunjuk al Quran surah al Baqoroh ayat 147, yaitu :   الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (١٤٧) “ Kebenaran itu adalah dari Robbmu, sebab itu jangan...

Read More...

Latest News

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Latest Articles

  • PERBEDAAN YAHUDI DENGAN ISRAIL Para ahli ilmu tentu sudah memahami perbedaan dua kata ini,  yahudi dengan Israil. Namun semoga ada manfaatnya bagi yang belum mengetahui hal ini. Sekadar...
  • ISLAM TIADA PERNAH MEMAKSA Dalil Petunjuk : Mempelajari petunjuk wahyu Allah dalam Surah Al Baqarah 256, yaitu: لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Contact Information

Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu
Komp. Yayasan AKUIS Pusat, Jl. Raya Palembang - Betung Km. 14 Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin
Palembang, Sumatera Selatan 30761
Indonesia
+62-711-432479
Fax: +62-711-432479
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Anda dapat menyalurkan infaq anda utk menunjang program panitia melalui: Bank Syari'ah Mandiri Capem 16 Ilir Palembang No. Rek: 0980010078

Site Counters

Visits today: 44
Visits yesterday: 73
Visits this month: 250
Visits total: 41355
Max.daily visits: 228
Max.monthly visits: 3460
- occurred: 2010-6
Pages total: 252052
Data since: 2009-07-02

Islamic Links

Banner
Banner
Banner
Banner
Banner

Who's Online

Saat ini ada 1 tamu online

Login Form