اعوذ بالله من الشّيطان الرّجيم
ومن الناس والدّواب والانعم مختلفٌ الونه كذلك انما يخشى الله من عباده العلماء انّ الله عزيزٌ غفورٌ ـ
Artinya :
Amma ba’du, dalam sebuah hadits riwayat Muslim bersumber dari Anas yang membayankan atau menjelaskan terhadap al Qur-an Surah Fathir ayat 28 di atas dinyatakan bahwa :
Hadits ini menjelaskan al Qur-an Surah Assyura ayat 13 :
Sedangkan ada pula sebuah hadits yang berbunyi :
Tetapi kedudukan matan atau isi hadits ini lemah (dhoif) sehingga tidak boleh dijadikan hujjah, karena masalah kenabian tidaklah diwariskan.
Maka kedudukan ‘ulama adalah suatu ketetapan dari Allah bagi hamba-hambaNya yang terpilih untuk memegang amanah kerasulan, yaitu memandu ummat dengan sistem dan program yang telah dicontohkan Rosulullah menuju kebahagiaan sejati di dunia akhirat setelah Dia tidak lagi mengutus para nabi dan rosul pembawa risalah.
Berdasarkan kaidah bahasa arab, ‘ulama’ berasal dari kata kerja dasar ‘alima (telah mengetahui); berubah menjadi kata benda pelaku ‘alimun (orang yang mengetahui - mufrad/singular) dan ‘ulama (jamak taksir/irregular plural).
Berdasarkan istilah, pengertian ulama dapat dirujuk pada al-Qur-an dan hadis. Namun yang sangat masyhur dalam hal ini adalah :
Kata al-’ulama’ dan al-’alimun sekalipun berasal dari akar kata yang sama tapi keduanya memiliki perbedaan makna yang sangat signifikan. Perbedaan makna ini dapat ditengarai dalam Al-Qur-an ketika kata al ’ulama’ disebutkan hanya 2 (dua) kali dan kata al alimun sebanyak 5 (lima) kali, dan kata al ’alim sebanyak 13 (tiga belas) kali (lihat al-Baqi, al-Mu’jam, hlm. 603-604). Penggunaan kata al-’ulama’ dalam Al Qur-an selalu saja diawali dengan ajakan untuk mengkaji secara mendalam terhadap esensi dan eksistensi al Khaliq serta ayat-ayatNya, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Ajakan berfikir secara benar terhadap ayat-ayat Allah ini antara lain bertujuan untuk mencari sebab akibat terhadap hal-hal yang akan terjadi sehingga dapat memunculkan kaidah-kaidah baru yang bersumber dari Kitabullah. Sehingga dengan kaidah ini akan dapat dimunculkan program pengentasan permasalahan ummat. Ummat yang mengambilnya sebagai panduan maka akan selamat begitupun sebaliknya.
Kata al-’alimun diiringi dengan usainya suatu peristiwa dan Al-Qur-an menyuruh mereka untuk merenungi kejadian ini sebagai bahan evaluasi agar kejadian tersebut tidak terulang lagi. Contoh pada tataran ini adalah ketika Al-Qur’an mengajak al-’alimun untuk memikirkan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh umat terdahulu disebabkan dosa yang mereka lakukan (lihat Q.S. Al-’Ankabut ayat 40-43).
Penyebutan kata al-’alim dalam bentuk tunggal semuanya mengacu hanya kepada Allah dan tidak kepada selainNya. Penggunaan kata ini diiringi dengan penciptaan bumi dan langit serta hal-hal yang ghaib dan yang nyata. Hal ini mengindikasikan bahwa munculnya pengetahuan manusia berbarengan dengan munculnya ciptaan-ciptaan Allah.
Bercermin kepada ayat di atas bahwa Allah menjelaskan, diantara hamba-hambaNya yang diperintahkan mengabdi kepadaNya, maka yang paling takut kepada Allah hanyalah orang-orang yang telah menepati kriteria al-‘ulama.
Bila coba kita uraikan satu persatu lafadz dalam Surah Fathir ayat 28 di atas secara kaidah tafsir bil matsur (menafsirkan dengan panduan al-qur-an dan hadits shohih), maka insyaAllah akan didapati kandungan makna yang mendalam.
Pertama lafadz “yahsya” yang bermakna “takut” adalah memiliki bobot yang lebih dibanding lafadz “khoufa” yang juga bermakna takut. Coba perhatikan lafadz “khouf” dalam Surah Ali Imran ayat 139 :
Takut pada ayat ini arahnya adalah rasa takut terhadap makhluq (khususnya kuffar) karena Allah telah menetapkan derajat yang mulia kepada hambanya yang beriman. ”...Wa antum al-a’launa in kuntum mukminin” (sedang kamu kamu mulia, jika kamu beriman).
Sedangkan lafadz ”yahsya” (takut) pada Surah Fathir ayat 28 adalah rasa takut kepada sesuatu yang pantas untuk ditakuti, yaitu kepada Allah Rabbul 'Ala. Munasabahnya atau persesuaian maknanya dapat kita lihat dalam surah an Nur ayat 52 :
Maka siapa saja yang taat kepada Allah dan RasulNya karena dilandasi sifat takut, maka sifat takut ini akan mewujudkan perilaku taqwa, selanjutnya taqwa inilah yang menjadi syarat bagi seseorang untuk mendapatkan kemenangan di dunia dan di akhirat.
Faktor atau sebab apakah yang menyebabkan seorang hamba menjadi takut kepada Allah? Sebabnya adalah karena ia mengenal kebesaran Allah. Sedangkan yang dapat mengenal kebesaranNya hanyalah hamba-hamba Allah yang diberi kefahaman ilmu yang mendalam atau disebut al ’Ulama.
Siapa Saja Yang Digolongkan Allah Sebagai ’Ulama?
Mari coba kita telusuri penjelasanNya dalam alQur-an dan hadits-hadits RasulNya mengenai derajat al-’Ulama.
Pertama... dalam surah at-Taubah ayat 128 :
Lafadz ”rosulun” (seorang utusan) adalah berbentuk ism nakhirah (umum), berbeda dengan ”al rosul” (seorang utusan) berbentuk ism makrifat (khusus). Maknanya ”rosulun” pada ayat ini dapat berarti Rosulullah Muhammad atau bisa pula artinya para ’ulama. Sedangkan ”al rosul” jelas arahnya hanya bermakna Rosulullah (Muhammad SAW).
Karena ada dua hadits riwayat Muslim dari Anas yang menjelaskan tentang keberadaan al-’Ulama, yaitu :
Juga satu hadits yang berbunyi :
Maka... jelaslah bahwa Allah tidak lagi mengutus Nabi dan Rosul setelah Rosulullah Muhammad, maka Dia meletakkan amanah kepemimpinan ummat dan makhluqNya hanya kepada al ‘Ulama, untuk memandu menuju keridhaanNya.
Kedua... dalam Surah an Nur ayat 37,
Makna tidak terlena adalah, segala aktivitas di dunia yang tujuannya untuk kesenangan pribadi akan mampu disingkirkannya demi memenuhi seruan yang lebih utama yaitu memenuhi panggilan Allah dan rosulNya. Sehingga seluruh niat atau motivasi dan ‘amaliyah atau kerjanya dialandasi karena perintah Allah dan rosulNya.
Ketiga... dalam Surah al Baqarah ayat 207-208,
Lafadz “assilmun” umumnya diterjemahkan sebagai Islam, namun menurut Kamus Annubuwah maknanya adalah “bentuk kesepakatan”. Maka yang dapat bersepakat secara kaffah (mendunia) bukanlah orang-orang awwam. Tetapi hanyalah para ’ulama yang telah menjual lahir-bathinnya kepada Allah. Sedangkan dalam Kitab Ilmu Tafsir al Itqon, yang disusun Imam as Suyuthi, dinyatakan bahwa ”assilmun” maknanya adalah ”attho’ah” (keta’atan), dan ”ka-ffah” (al jama-ah). Artinya keta’atan secara berjamaah.
Natijah (Kesimpulan)
Dari beberapa ayat dan hadits diatas dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa Allah menetapkan beberapa kriteria atau ciri khas al ‘ulama yang dapat dikenali, sedangkan seorang hambanya tidak dibenarkan memplokamirkan dirinya sebagai ‘ulama, yang dikhawatirkan menimbulkan sikap takabur. Karena kedudukan ‘ulama hanya Dia yang Maha Mengetahui dan bukan gelar dari manusia ataupun dari penguasa.
Atas dasar itulah sifat dan sikap yang dapat kita kenali dari al‘ulama antara lain :
- Takut untuk mengada-adakan suatu ucapan atau perbuatan atas nama perintah Allah atau rasulNya. Ia berhati-hati dalam beribadah dengan semata-mata berlandaskan kepada hujjah dari Kitabullah dan sunah rasulNya yang shohih, sehingga memunculkan ’amaliyah taqwa. (Qs.35 : 28 dan Qs. 24 :52).
- Menjadikan Syariat Islam sebagai satu-satunya solusi final bagi keselamatan ummat manusia sedunia(Qs.42 :13).
- Memiliki rasa prihatin kepada penderitaan ummat, kemudian mengupayakan suatu solusi / harish (program pengentasan ummat), karena memiliki sifat penyantun dan penyayang (Qs.9 :128).
- Memegang teguh amanah dari Allah berupa dan shabar / teguh pendirian terhadap godaan dan cobaan, karena rosul menjelaskan bahwa ’ulama tidak pernah melakukan hal-hal berikut : menjilat atau mencari muka kepada penguasa, ambisi jabatan, cinta berat terhadap dunia atau materialistik. Artinya segala amalnya tidak diukur dengan uang, tidak banyak ikut campur urusan penguasa apalagi berpolitik. Karena bila mereka melanggar batasan ini, maka rosul memberi julukan sebagai pencuri (li-sun) dan pengkhianat, dan ummat diperintahkan menjauh dari ’ulama syu’ ini.
- Mengutamakan urusan perintah Allah dengan ibadah / dzikir, menegakkan sholat dan mendatangkan zakat diatas segala urusan pribadi seperti perdagangan dan jual-beli. (Qs.24 : 37).
- Menyerahkan / menjual lahir-bathinnya hanya kepada Allah dengan mengharap ridhoNya bukan mengharap imbalan materi, kedudukan, dan pujian manusia. (Qs.2:207).
- Mengupayakan untuk membangun kesepakatan ’Ulama secara mendunia dalam menepati perintah Allah untuk menerapkan Syariat Islam secara kaffah. (Qs.2:208).
| Comments |
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
Tafseer Qur'an
Petunjuk al Quran Firman Allah dalam al Quran surah Mujadilah ayat 9 dan ayat 10 sebagai berikut : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلا تَتَنَاجَوْا بِالإثْمِ وَالْعُدْوَانِ...
Read More...Petunjuk Al Quran Firman Allah Subhanallah wa Ta’ala dalam surah al A’rof ayat 145 dan ayat 146, sebagai berikut : وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الألْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلا...
Read More...Petunjuk FirmanNya Firman Allah dalam al Quran surah al Mukminun ayat 68 sampai dengan ayat 71, sebagai berikut : أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الأوَّلِينَ...
Read More...Dalil Pokok Dengan memahami petunjuk al Quran surah al Baqoroh ayat 147, yaitu : الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (١٤٧) “ Kebenaran itu adalah dari Robbmu, sebab itu jangan...
Read More...Latest News
-
Aliran Sesat, Kenali, Jauhi, dan Perangi Dalam setiap rakaat sholat, kita diwajibkan membaca Surah al Fatihah, dimana diantara ayatnya ada do’a yang selalu kita panjatkan untuk dijauhkan dari...
-
Tanggapan Audiensi Panitia di Wilayah Sumsel Untuk melaksanakan salah satu amanah hasil keputusan Musyawarah Pleno ke VI DP3MU, maka Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu melakukan audiensi ke...
- 1
- 2
- 3
- 4
Latest Articles
-
PERBEDAAN YAHUDI DENGAN ISRAIL Para ahli ilmu tentu sudah memahami perbedaan dua kata ini, yahudi dengan Israil. Namun semoga ada manfaatnya bagi yang belum mengetahui hal ini. Sekadar...
-
ISLAM TIADA PERNAH MEMAKSA Dalil Petunjuk : Mempelajari petunjuk wahyu Allah dalam Surah Al Baqarah 256, yaitu: لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ...
- 1
- 2
- 3
- 4
Contact Information
Komp. Yayasan AKUIS Pusat, Jl. Raya Palembang - Betung Km. 14 Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin
Palembang, Sumatera Selatan 30761
Indonesia
+62-711-432479
Fax: +62-711-432479
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Anda dapat menyalurkan infaq anda utk menunjang program panitia melalui: Bank Syari'ah Mandiri Capem 16 Ilir Palembang No. Rek: 0980010078
Site Counters
| Visits today: | 44 |
| Visits yesterday: | 73 |
| Visits this month: | 250 |
| Visits total: | 41355 |
| Max.daily visits: | 228 |
| Max.monthly visits: | 3460 |
| - occurred: | 2010-6 |
| Pages total: | 252052 |
| Data since: | 2009-07-02 |















