Adapun istilah yang diangkat menjadi judul tulisan ini pada dasarnya terinspirasi dari kalimat dalam Al Quran yaitu ضِعْفَ yang terjemahnya (siksaan berlipat ganda) dalam surah Al Isra ayat 74. Suatu kesengsaraan yang dapat sama-sama kita lihat saat ini yang menimpa sebagian besar umat Islam di berbagai belahan dunia. Ibarat orang yang sudah jatuh menggelinding dari atas tangga, lalu ditambah pula tubuhnya ditimpa tangga roboh tersebut.
Itulah bentuk kemalangan luar biasa, sehingga bagi orang-orang yang kurang yakin dan peka dengan janji dan ketetapan Allah, dengan melihat kenyataan ini maka mereka beranggapan seolah mustahil bagi umat ini untuk bangkit kembali kepada kemuliaan dan kejayaannya. Sikap keputusasaan, pesimis dan apatis ini karena mereka melihat dan mencerna berbagai kenyataan hidup berlandaskan nalar atau logika semata. Sebenarnya tidaklah benar sikap dan pandangan tersebut, jika kita meniliti berbagai keterangan dalam Kitabullah dan Sunah rasulNya. Bahkan kita harus optimis terhadap masa depan umat ini dan segera memulai membenahi diri, langkah dan menafkahkan harta kita di jalan Allah agar menjadi bagian yang dicatat Allah sebagai saksi tegaknya kembali periode kepemimpinan Islam di dunia hingga akhir zaman sebagaimana janjiNya.
Adalah suatu kenyataan bahwa dalam tubuh umat ini sudah mewabah berbagai penyakit umat terdahulu yang menjatuhkan derajat kemulian mukmin. Antara lain penyakit hasad (dengki), perselisihan, sombong, berbagai skandal kejahatan, mengada-ada dalam perkara Addin (al ihdatsu fiddien), kebanggan kelompok dan bangsa, monopoli, perampokan harta rakyat, tindakan amoral, saling berlomba harta dengan melalaikan majelis ilmu sehingga hati-hati mereka menjadi keras, dan seterusnya sebagaimana diprediksi dalam beberapa ayatNya dan hadits qouliyah rosulullah. Bahkan kemusyrikan dan kejahilan semakin populer. Inilah bukti orang yang dibaratkan terjatuh dari tangga atau derajat kemuliaan yang tinggi disisi Allah.
Sedangkan ‘tangga’ yang menimpa umat kita saat ini adalah berupa penjajahan, penistaan, pembantaian, intimidasi, tekanan, fitnah, dan perampokan yang dilakukan kafirin musuh Allah dan rasulNya. Ditambah lagi dengan berbagai bencana alam yang beruntun memusnahkan sebagian umat ini.
Beberapa Sebab Siksaan Berlipat Ganda
Adanya kenyataan peningkatan dalam segi kualitas dan kuantitas bencana dalam dekade terakhir ini, seperti gempa bumi, banjir, badai, hujan, peperangan, perselisihan, perpecahan yang merata, dan berbagai perilaku amoral dikalangan elit sampai rakyat jelata menjadi pertanda penting bagi hamba Allah yang senantiasa menjadikan Al Quran sebagai cermin hidupnya, tempat kembali dan tempat bertanya. Jangan seperti kaum atheis yang memandang hal ini semata fenomena alam dan dinamika masyarakat.
Alam telah memberi sinyal ketidaksenangannya kepada sebagain manusia yang ingkar kepada hukum Allah. Disaat manusia merasa cukup pandai membuat perkiraan dan perencanaan dengan isu global warming (pemanasan global) yang ditakuti sebagian orang. Maka tatkala mereka dengan sombongnya membuat berbagai kesepakatan di Copenhagen baru-baru ini sebagai lanjutan protokol Kyoto tahun 1997 untuk pembatasan emisi gas rumah kaca seperti CO 2 , CH 4 , N 2 O, HFCs, PFCs dan SF 6 dan tindakan “penyelamatan alam” lainnya seperti pola makan vegetarian, dengan melalaikan kekuasaan dan kepemilikan Allah atas bumi ini, justru Allah mendatangkan atas penduduk bumi berbagai bencana alam berupa badai hujan dan salju yang membeku yang menewaskan banyak orang. Maka bukan pemanasan global yang datang, tapi cuaca dingin dan membeku yang mengglobal. Semua ini sungguh di luar perkiraan mereka.
اسْتِكْبَارًا فِي الأرْضِ وَمَكْرَ السَّيِّئِ وَلا يَحِيقُ الْمَكْرُ السَّيِّئُ إِلا بِأَهْلِهِ فَهَلْ يَنْظُرُونَ إِلا سُنَّةَ الأوَّلِينَ فَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلا وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَحْوِيلا (٤٣)
“karena kesombongan (mereka) di muka bumi dan karena rencana (mereka) yang jahat. rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tiadalah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlakunya) sunnah (Allah yang telah berlaku) kepada orang-orang yang terdahulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunnah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui penyimpangan bagi sunnah Allah itu. (Surah Fathir : 43)
Hendaknya kita ummat Islam senantiasa berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Janganlah kita mudah latah dengan berbagai isu yang sengaja dibuat orang kuffar yang ingin mengalihkan perhatian manusia dari rencana jahat mereka dengan menafikan kekuasaan Sang Pencipta. Mereka orang kafir adalah kaum yang sombong dan atheis, merasa mampu menguasai alam sedangkan tak ada satu kejadian pun di alam ini tanpa izin dari Allah. Mereka juga kafir kepada para malaikat yang diberi Allah berbagai tugas di antara langit dan bumi ini demi menjaga kelangsungan hidup manusia. Adanya pergiliran cuaca, pergerakan angin, turunnya hujan yang menyuburkan atau menenggelamkan, dan sebagainya, semua tak lepas dari pengawasan Allah dan para malaikatNya.
Bukankah Allah telah memberikan keleluasan bagi bumi dan langit sebagai makhluqNya untuk “menindak” manusia yang mangkir dari penghambaan kepada Allah. Dan alam pun bersumpah setia kepadaNya saat awal penciptaannya dahulu. Bumi dan langit bukanlah benda mati seperti anggapan orang kafir. Pergerakan lempeng benua dan samudra, serta peredaran benda-benda angkasa menunjukkan mereka makhluk yang dinamis yang melayani dan mengawasi manusia. Dalam Surah Fushilat ayat 11-13 sangat jelas hal ini,
ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلأرْضِ اِئْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ (١١)فَقَضَاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ فِي يَوْمَيْنِ وَأَوْحَى فِي كُلِّ سَمَاءٍ أَمْرَهَا وَزَيَّنَّا السَّمَاءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيحَ وَحِفْظًا ذَلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ (١٢)فَإِنْ أَعْرَضُوا فَقُلْ أَنْذَرْتُكُمْ صَاعِقَةً مِثْلَ صَاعِقَةِ عَادٍ وَثَمُودَ (١٣)
“kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa. Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya. dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang dan Kami memeliharanya dengan sebaik-baiknya. Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui. Jika mereka berpaling Maka Katakanlah: "Aku telah memperingatkan kamu dengan petir, seperti petir yang menimpa kaum 'Aad dan Tsamud".
Adapun yang menjadi bahan kesombongan kaum kafir kepada orang mukmin antara lain dijelaskan dalam Surah Maryam ayat 73 berikut,
وَإِذَا تُتْلَى عَلَيْهِمْ آيَاتُنَا بَيِّنَاتٍ قَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِلَّذِينَ آمَنُوا أَيُّ الْفَرِيقَيْنِ خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا
“dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang terang (maksudnya), niscaya orang-orang yang kafir berkata kepada orang-orang yang beriman: "Manakah di antara kedua golongan (kafir dan mukmin) yang lebih baik tempat tinggalnya dan lebih indah tempat pertemuan(nya)?"
Dalam kalimat خَيْرٌ مَقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا (lebih baik Peradabannya dan lebih indah tempat Majelisnya)?"), mengandung juga pengertian bahwa orang kafir saat ini membangggakan kemajuan peradaban, perekonomian, teknologi mereka dan majelis dunianya yang antara lain PBB, G7, NATO, dan sebagainya. Seolah mereka berkata kepada umat Islam “ mana hasil kemajuan peradaban kalian dan mana pula organisasi duniamu yang setara dengan kami?”.
Terkadang orang kafir berhasil melancarkan serangan kepada kita berupa psywar (perang psikologis) melalui industri film dan media mereka. Walaupun kenyataannya orang kafir tidak sehebat yang mereka buat di film atau yang mereka tulis di media cetak. Bahkan sering kali dikalahkan dalam peperangan yang mereka bangun. Namun kemenangan dalam psywar ini dapat berarti sudah berhasil 50 persen mengalahkan (mental) musuhnya. Hendaknya umat Islam berupaya melawan perang pencitraan mereka ini dengan selalu mengkaji berita-berita yang disampaikan Allah dan rasulNya.
Sedangkan strategi yang dibangun oleh kaum kafir dalam upaya mengalahkan umat mukmin antara lain dijelaskan dalam Surah An Naml ayat 48 berikut,
وَكَانَ فِي الْمَدِينَةِ تِسْعَةُ رَهْطٍ يُفْسِدُونَ فِي الأرْضِ وَلا يُصْلِحُونَ (٤٨)
“dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan
Kalimat تِسْعَةُ رَهْطٍ dapat pula berarti ‘sembilan aktor intelektual’ dibalik layar yang pandai beralibi serta merancang berbagai strategi pertempuran berkut skandal kejahatan melawan umat Islam. Mereka membangun jaringan mafia dalam bidang ekonomi dengan menggunakan Bank Dunia dan pejabat lokal yang bisa ‘dibeli’. Juga di berbagai sektor kehidupan lain seperti politik adu domba, pendidikan aqidah Islam yang dikebiri namun pendidikan materialis yang diutamakan, membangun teknologi yang menghancurkan kemanusiaan, seni budaya nudis dan panik, makanan dan minuman yang merusak generasi, aliran kepercayaan yang sesat dan menjadi parasit aqidah, media yang sumbang dan mengaburkan fakta, serta dunia hiburan atau entertainment yang tidak mendidik. Sedang yang menjadi motor semua ini adalah para ahli kitab, yahudi dan nashoro.
Maka setelah jelas skandal kejahatan mereka tersebut, apakah masih ada kecenderungan umat Islam untuk mengikuti langkah orang kafir tersebut? Sudah saatnya kita bangkit dari keterpurukan ini jika memang hati ini masih berfungsi. Jangan sekali-kali kita masuk ke jebakan yang sama seperti disinyalir Rasulullah dalam haditsnya. Sistem kehidupan kafirin adalah jibti dan thogut (Surah An Nisa ayat 51), yaitu sesat dan menghalalkan segala cara untuk memenuhi ambisi hawa nafsunya. Sedangkan jalan bagi mukminin adalah yang dijelaskan dalam Surah al An’am ayat 153 yaitu Shirot al Mustaqim (al Quran) dan diperjelas dalam Surah al Jatsiyah ayat 18 yaitu Syariat Islam.
ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَى شَرِيعَةٍ مِنَ الأمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ (١٨)
“kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (Islam itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui.”
Ada peringatan penting dalam Al Quran berkaitan pemilihan sistem pengaturan hidup yang harus diperhatikan bagi manusia khususnya ummat Islam agar terhindar dari segala dampak buruk apabila melanggarnya. Bahwa orang-orang kafir yang menolak Al Quran sebagai satu-satunya jalan hidup, mereka hakikatnya adalah tim penguji bagi mukmin. Antara kafirin dan mukminin memiliki sistem atau jalan hidup yang berbeda satu sama lain. Mereka (kafirin) menempuh jalan jibti dan thogut dalam mengatur kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bangsa, negara, bahkan dunia, sedangkan mukmin selayaknya hanya berjalan diatas rel syariat yaitu Kitabullah Al Quran dalam hal tersebut.
Apabila ada suatu umat yang menyatakan diri muslim, namun memilih jalan selain Al Quran dalam perkara-perkara di atas, maka janganlah mereka bersedih jika alam semesta memaklumkan beragam bencana atas diri mereka. Jangan pula bertanya mengapa tiada pertolongan Allah atasnya ketika para musuh mereka terus merangsek hingga ke jantung pertahanan aqidahnya. Sebagai suatu sunatullah atau ketetapan Allah terdahulu yang tak berubah ataupun menyimpang, jika ada orang yang mengaku Islam, namun mengambil jalan selain Al Quran walau dalam rangka jihad menegakkan syariatNya, maka sama saja dengan berlepas diri kepada Allah. Sedangkan siapakah sebaik-baik pelindung dan penolong? Bukankah Allah telah banyak memperingatkan hal ini, antara lain:
وَلَوْلا أَنْ ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلا (٧٤)إِذًا لأذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لا تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا (٧٥)
“dan kalau Kami tidak memperkuat (hati)mu, niscaya kamu Hampir-hampir condong sedikit kepada mereka, Jika terjadi demikian, benar-benarlah Kami akan rasakan kepadamu (siksaan) berlipat ganda di dunia ini dan begitu (pula siksaan) berlipat ganda sesudah mati, dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun terhadap kami.
Kalimat لَقَدْ كِدْتَ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلا niscaya kamu Hampir-hampir condong sedikit kepada mereka dan ضِعْفَ (siksaan) berlipat ganda, mengisyaratkan suatu peringatan dan ancaman bagi umat Islam yang telah diberikan Allah petunjuk hidup berupa Al Quran. Jika umat muslim mencoba berkompromi, bermain mata atau condong sedikit saja dengan tata cara hidup orang kafir, maka otomatis akan merasakan dua kali lipat siksaan di dunia begitupun dua kali lipat di akhirat.
Di dunia mereka dijangkiti berbagai penyakit masyarakat dan kezaliman yang merajalela, bencana alam beruntun dan ditimpakan pula atas mereka penghinanaan dari kaum kafir. Semua ini tidak akan berakhir sampai mereka mau kembali kepada apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah.
Contoh konkritnya ada pada sebuah negeri yang dilimpahi Allah Sumber Daya Alam yang melimpah, masyarakatnya konon mayoritas memeluk Islam dengan jumlah terbesar, namun dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara menggunakan aturan hukum selain Al Quran. Mereka begitu gandrung dengan manhaj politik made in Plato dengan berbagai turunannya. Antara lain demokrasi, partai-partai politik, revolusi, kudeta, demonstrasi, bom bunuh diri dan seterusnya. Sedangkan politik itu jelas sumbernya dan definisinya dari orang kafir, dari tujuannya adalah bagaimana meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional dengan segala konsekuensinya, itulah jalan jibti dan thogut. Akibatnya mereka rasakan sendiri kesengsaraan yang seolah tak berujung.
Jika ada umat Islam yang berjuang dan mengatur hidupnya dengan sistem hukum yang dibuat kafirin yaitu politik, maka selamanya kita akan kalah. Sebab pertama karena Allah tidak meredhoi perbuatan mencampuradukkan antara haq dan bathil (talbis). Sebab kedua kafirin secara total mengaplikasikan keserakahan duniawiyah melalui sistem mereka itu. Sementara umat Islam yang berpolitik akan setengah hati dalam perjalannya. Satu sisi mereka selalu berdoa dan berharap keselamatan kepada Allah, disisi lain mereka berpolitik ‘ala Islami yang menjaga tetap “kesantunan” atau etika berpolitik. Umat Islam tidak akan seserakah kafirin dalam berpolitik. Dan tak salah kiranya dalam kitab Al Ihya, al Ghazali menilai politik sebagai perbuatan bid’ah dalam Islam. Sebuah kesesatan kelas berat yang berdampak luas pada masyarakat umum bukan hanya pribadi pelaku.
Seandainya sistem politik itu benar, tentu negeri itu akan selamat, sejahtera, aman dan damai sejak dahulu, karena pasti Allah akan menolong mereka. Namun justru kenyataan menyimpang dari harapan. Bukan negeri yang gemah ripahloh jinawi, toto tentrem kerto raharjo, tapi sebuah negeri multi krisis.
Sebagai contoh, banyak kaum perempuannya ditelantarkan nasibnya oleh keluarga dan penguasa negerinya. Sehingga mereka mengadu nasib di negeri orang sebagai pekerja kasar. Namun tragis tak sedikit dari ‘pahlawan devisa’ ini yang disiksa majikannya atau pulang ke negerinya hanya tinggal nama saja. Masyarakat negeri ini mulai dari rakyat jelata sampai pimpinan, orang awwam sampai intelectual dan tokoh agama mudah berselisih, saling menghujat, demonstrasi dan bentrok menumpahkan darah. Kekayaan alamnya dirampok oleh kekuatan asing melalui sistem mafia. Hukum mudah dibeli bagi yang berharta. Perbuatan asusila, kriminal, jaringan psikotropika, kemiskinan, bahkan skandal-skandal kejahatan meluas. Sesama negeri muslim yang bertetangga pun kita mudah diadu domba, dan banyak contoh lainnya.
Yang paling mengkhawatirkan apabila kemusyrikan merajalela di tengah umat mukmin, Allah mengancam pelakunya dengan satu peringatanNya,
الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ (٨٢)
orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka Itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (Surah Al An’am 82).
Salah satu bentuk perbuatan syirik yang dilakukan sebagi umat ini adalah pengikut faham “suara rakyat adalah suara tuhan” (vox populi vox dei). Sebagian rakyat senang menjadi alat yang dipertuhankan. Mereka bangga memasukkan ‘suara-suara tuhannya’ melalui kotak-kotak suara dan gemar berdemonstrasi menekan pemerintahnya jika ada suatu kasus atau ‘kebijakan’ yang tidak sesuai kehendak hawa nafsu mereka. Maka jangan heran perbuatan campur aduk antara iman dan syirik ini dapat menyebabkan dicabutnya keamanan hidup yang diberikan Allah kepada umat mukmin. Sebagian pejabat senang menjadi abdi masyarakat. Bukankah dalam sholat selalu kita baca kepada Engkaulah (Allah) kami mengabdi dan kepada Engkau kami memohon pertolongan?!
Inilah contoh jahiliyah modern. Kiranya cukup pantas jika langit dan bumi ‘mengambil tindakan’ dengan gempa, tsunami, banjir, dan wabah penyakit penduduk negeri itu. Tak heran justru bencana alam sering menimpa pada ‘rakyat kecil’ yang sebagian mereka senang dipertuhankan manusia, dan bukan menimpa istananya para penguasa.
Maka mustahil Allah meridhoi dan menginzinkan Kejayaan Islam tegak melalui perjuangan politik. Dinul Islam itu milikNya, yang bersih dan suci dari anasir-anasir logika dan hawa nafsu. Janganlah umat Islam tersesat dalam pola ini sehingga meresa seolah telah berjihad fi sabilillah, namun gerbong mereka diletakkan pada rel yang salah, karena dapat dipastikan di akhir perjalanannya pasti kecewa. Apakah Al Quran dan sunah RasulNya kurang lengkap untuk memandu, atau sebagian kita kurang confidence sehingga perlu mengambil jalannya Plato?
Siksa Setelah Mati
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ (٩٣)
“dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", Padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah." Alangkah dahsyatnya Sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut, sedang Para Malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata): "Keluarkanlah nyawamu" di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayatNya.
Kalimat "Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah", dalam Surah al An’am ini adalah gambaran orang-orang yang menanggalkan Al Quran dan mendatangkan tandingannya berupa sistem hukum hasil logika dan hawa nafsu mereka.
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا عَنْهَا لا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ وَكَذَلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ (٤٠)
“Sesungguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan kepada orang-orang yang berbuat kejahatan”. (Surah Al A’raf 40)
Alangkah dasyatnya siksa mereka, mari kita berlindung kepada Allah kezaliman dan kedustaan tersebut. Wallahu’alam.
| Comments |
|
3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."
| < Prev | Next > |
|---|
Tafseer Qur'an
Petunjuk al Quran Firman Allah dalam al Quran surah Mujadilah ayat 9 dan ayat 10 sebagai berikut : يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا تَنَاجَيْتُمْ فَلا تَتَنَاجَوْا بِالإثْمِ وَالْعُدْوَانِ...
Read More...Petunjuk Al Quran Firman Allah Subhanallah wa Ta’ala dalam surah al A’rof ayat 145 dan ayat 146, sebagai berikut : وَكَتَبْنَا لَهُ فِي الألْوَاحِ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ مَوْعِظَةً وَتَفْصِيلا...
Read More...Petunjuk FirmanNya Firman Allah dalam al Quran surah al Mukminun ayat 68 sampai dengan ayat 71, sebagai berikut : أَفَلَمْ يَدَّبَّرُوا الْقَوْلَ أَمْ جَاءَهُمْ مَا لَمْ يَأْتِ آبَاءَهُمُ الأوَّلِينَ...
Read More...Dalil Pokok Dengan memahami petunjuk al Quran surah al Baqoroh ayat 147, yaitu : الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ (١٤٧) “ Kebenaran itu adalah dari Robbmu, sebab itu jangan...
Read More...Latest News
-
Aliran Sesat, Kenali, Jauhi, dan Perangi Dalam setiap rakaat sholat, kita diwajibkan membaca Surah al Fatihah, dimana diantara ayatnya ada do’a yang selalu kita panjatkan untuk dijauhkan dari...
-
Tanggapan Audiensi Panitia di Wilayah Sumsel Untuk melaksanakan salah satu amanah hasil keputusan Musyawarah Pleno ke VI DP3MU, maka Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu melakukan audiensi ke...
- 1
- 2
- 3
- 4
Latest Articles
-
PERBEDAAN YAHUDI DENGAN ISRAIL Para ahli ilmu tentu sudah memahami perbedaan dua kata ini, yahudi dengan Israil. Namun semoga ada manfaatnya bagi yang belum mengetahui hal ini. Sekadar...
-
ISLAM TIADA PERNAH MEMAKSA Dalil Petunjuk : Mempelajari petunjuk wahyu Allah dalam Surah Al Baqarah 256, yaitu: لا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ...
- 1
- 2
- 3
- 4
Contact Information
Komp. Yayasan AKUIS Pusat, Jl. Raya Palembang - Betung Km. 14 Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin
Palembang, Sumatera Selatan 30761
Indonesia
+62-711-432479
Fax: +62-711-432479
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Anda dapat menyalurkan infaq anda utk menunjang program panitia melalui: Bank Syari'ah Mandiri Capem 16 Ilir Palembang No. Rek: 0980010078
Site Counters
| Visits today: | 57 |
| Visits yesterday: | 73 |
| Visits this month: | 263 |
| Visits total: | 41368 |
| Max.daily visits: | 228 |
| Max.monthly visits: | 3460 |
| - occurred: | 2010-6 |
| Pages total: | 252164 |
| Data since: | 2009-07-02 |















