Monday, February 06, 2012
   
Text Size

MASJID

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

“Maka Apakah orang-orang yang mendirikan mesjidnya di atas dasar taqwa kepada Allah dan keridhaan-(Nya) itu yang baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu bangunannya itu jatuh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahannam. dan Allah tidak memberikan petunjuk kepada orang- orang yang zalim”.
(QS. Attaubah :109)

Allah SWT telah mengajarkan kepada hamba-hambaNya melalui KitabNya dan tuntunan RosulNya Muhammad SAW perihal tuntunan beribadah dan bermuamalah duniawiyah. Tidak ada satu bagianpun dalam masalah Dinul Islam yang luput dalam dua petunjuk pokok tersebut. Termasuk masalah pendirian masjid sebagai sarana beribadah, pengembangan ilmu dan wadah konsolidasi dakwah ilallah melalui gerakan amr bil makruf wa nahyu ‘anil munkar, serta tempat mengatur strategi perang.

Dasar pokok pendirian masjid sebagaimana dalam surat attaubah ayat 109 adalah dua hal, yaitu wujud taqwa kepada Allah dan mencari ridhoNya. Masjid Nabawi yang dibangun Rosulullah dan para sahabatnya terdahulu adalah contoh jelas bagi siapapun yang ingin mengambil ittibar terbaik. Masjid ini dibangun dengan dua landasan pokoknya tersebut. Ia juga dibangun oleh orang-orang yang ingin memakmurkan amaliyah masjid dan melalui infaq mereka masing-masing. Dengan demikian itu menjadi pondasi kokoh suatu bangunan dan memunculkan rasa “memiliki tanggung jawab” terhadap hidup dan matinya fungsi masjid tersebut.

Maka bagaimana halnya dengan masjid-masjid yang dibangun dengan dana dari sumbangan-sumbangan orang-orang yang tidak berkepentingan dan tidak peduli terhadap kegiatan memakmurkannya? Dengan “menjala” recehan dijalanan atau mengajukan proposal bantuan? Umumnya masjid seperti ini akan akan “sepi” dari kajian-kajian alqur-an, meskipun ada biasa tidak berlangsung lama. Wajar saja terjadi karena “pondasi” ruhiyahnya tidak dibangun menurut tuntunan sunah rosulullah.

Masjid secara istilah artinya “tempat sujud”. Sedangkan sujud sendiri memiliki antara lain “meninggalkan karya atau ‘amal” bagi kemaslahatan ummat. Karena seluruh permukaan bumi adalah tempat sujudnya hamba Allah. Dan implementasi sujudnya hamba Allah dalam sholat adalah meninggalkan “bekas” atau tanda di muka bumi bagi generasi selanjutnya.

سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ

“tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud” (Qs.al Fath :29)

Lafadz  “wajah” disini berarti keseluruhan tubuh lahir bathin, bukan hanya muka, karena ayat ini tidak menjelaskan bagian-bagian tubuh lainnya seperti dalam surah al Maidah ayat 6:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ

"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki."

Menurut sunnah, posisi wajah ketika sujud dalam sholat bukanlah bertumpu pada dahi saja, tapi rosul menunjuk pada hidung lalu kearah dahi. Tanda sujud hikmahnya bukan sekedar “tanda hitam di dahi”, karena belum kami temukan hadits rosul yang menyatakan pada dahi beliau terdapat tanda hitam. Tapi beliau dan sahabatnya meninggalkan petunjuk dan karya bagi ummat manusia. Bekas sholat Nabi SAW yang tampak pada tubuhnya adalah pada kaki-kaki beliau yang “bengkak” karena lamanya berdiri dalam sholat malam.

Beliau SAW, mempelopori membangun Masjid Nabawi di Madinah setelah mengadakan dakwah (pembinaan) yang cukup panjang di Makkah. Oleh karena itu setiap upaya untuk membangun Islam, wajib kita kembalikan kepada Petunjuk Allah dan tuntunan RosulNya agar bisa menepati kaidah taqwa dan beroleh ridhoNya, serta memiliki pondasi yang kokoh. Maka upaya menepati sunnah ini perlu kita dukung dengan segenap kemapuan harta dan diri. Wallahu’alam. (KJ).
Comments
Add New Search RSS
KHAIRUL HISHAM HASSAN 06-02-2011 15:40:45

Imam Fakhruddin Al-Razi menyatakan terdapat dua pendapat dalam mentafsirkan
tanda hitam di dahi ini ( AT-TAFSIR AL-KABIR, 28/93 ) :-

Pertama : Tanda
itu akan ternampak di akhirat kelak sebagaimana firman Allah dalam surah Ali
Imran ayat 106 " Di hari yang Allah memutih dan menggelapkan wajah" dan
juga dari surah At-Tahrim ayat 8.

Kedua : Tanda ini akan terzahir di dunia
lagi. Terdapat dua kemungkinan yang disebut iaitu:
(1) Bekas sujud ini
adalah tanda hitam di dahi. Namun perlu diingat ada sebahagiannya memang hitam
kerana banyaknya sujud, namun banyak sujud belum tentu diterima solatnya.
Manakala ada yang hitam sebab-sebab lain.

Justeru secara umumnya, tanda
hitam di dahi, boleh membawa erti tanda sujud yang banyak dan lainnya. JIKA
tanda sujud itu DI IRINGI DENGAN SIFAT-SIFAT MAHMUDAH DIRINYA dan wajahnya yang
menepati ciri kedua di bawah, lalu ia KEMUNGKINAN BESAR TANDA YANG BENAR.


(2) Satu tanda yang Allah zahirkan di wajah orang yang sujud dari raut
yang bercahaya, kelihatan tenang dan menyenangkan. Tanda inilah yang disebut
terdapat pada wajah Baginda Nabi Muhammad S.A.W, para sahabat dan lain-lain
ulama.
Write comment
Name:
Email:
 
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B)
:evil::silly::dry::lol::kiss:
:D:pinch::(:shock::X
:side::):P:unsure::woohoo:
:huh::whistle:;):s:!:
:?::idea::arrow:

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Move
-

Tafseer Qur'an

Top Headline

Petunjuk Al Qur-an Allah telah memberikan amtsal dalam Surah Al Baqrah 247-248, sebagai berikut : "Dan Nabi mereka berkata kepada mereka : "Sesungguhnya telah Dia bangkitkan untuk kamu sekalian Thalut sebagai raja", mereka berkata: "Apakah bisa terjadi bagi dia...

Read More...

Petunjuk Dalil Firman Allah dalam Surah Al Maidah 67 sebagai berikut: "Wahai Rasul! Sampaikanlah segala apa yang di turunkan kepadamu dari Robb kamu, Dan jika tidak kamu kerjakan , maka (berarti) tiadalah kamu menyampaikan risalah-Nya  dan Allah itu memelihara...

Read More...

Petunjuk Al Qur-an Firman Allah dalam surah Ali Imron 200, sebagai berikut: "Wahai orang-orang yang beriman!, Bershabarlah kalian dan tuntutlah keshabaran dan bersiagalah dan bertaqwalah. Mudah-mudahan kalian bahagia" Analisa Ringkas Dalam perkataan "shabar"...

Read More...

Petunjuk dan Pentelaahannya Sebagaimana telah difaham bahwa perkataan "Taqwa" dalam al Qur-an meurut kaidah Ilmu Tafsir disebut "Lafadz  Al Musytarak Fihi", didalam pengertiannya bermuatan makna yang berbeda-beda meurut kedudukan ayat,yang bertujuan agar hamba...

Read More...

Latest News

  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Latest Articles

  • MASSA 'IDDAH Pengertian " 'IDDAH"  berasal dari perkataan " 'ADDUN" , "  'ADADUN"  yang berarti bilangan, hitungan, hisab" ; Atau berasal dari perkataan " 'ADDA...
  • Kewajiban Dalam Kebenaran Petunjuk al Quran Dalam surah al Kahfi ayat 29, sebagai berikut : “Dan katakanlah: "Kebenaran itu datangnya dari Robbmu; Maka barangsiapa yang ingin...
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4

Contact Information

Panitia Mudzakarah Ulama Serumpun Melayu
Komp. Yayasan AKUIS Pusat, Jl. Raya Palembang - Betung Km. 14 Sukajadi, Talang Kelapa, Banyuasin
Palembang, Sumatera Selatan 30761
Indonesia
+62-711-432479
Fax: +62-711-432479
This e-mail address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it
Anda dapat menyalurkan infaq anda utk menunjang program panitia melalui: Bank Syari'ah Mandiri Capem 16 Ilir Palembang No. Rek: 0980010078

Site Counters

Visits today: 37
Visits yesterday: 50
Visits this month: 328
Visits total: 4941
Max.daily visits: 108
Max.monthly visits: 2442
- occurred: 2011-12
Pages total: 68005
Data since: 2011-12-01
Banner
Banner
Banner
Banner

Who's Online

Saat ini ada 2 tamu online

Login Form