إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَـٰهَدُواْ بِأَمۡوَٲلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ‌ۚ أُوْلَـٰٓٮِٕكَ هُمُ ٱلصَّـٰدِقُونَ
(Qs.49:15)

Pesan Syariat Sholat Dalam Upaya Iqomatuddin

Posted by | Artikel | No Comments

Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang Ad Dien, sebagaimana yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah Ad Dien dan janganlah kamu berpecah belah didalamnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik apa yang kamu seru kepada mereka. Allah memilih kepada Dien itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (Dien-Nya) orang yang kembali (taubat kepada-Nya). (Qs.42:13)

Bobot nilai dari sebuah wasiyat, terlebih dalam bentuk wahyu dari Allah berupa Syariat Ad Dien, tentulah paling tinggi dan seutama – utama perkara. Dalam wasiyat ini terkandung tuntutan bagi para Rasul dan muttabi’ mereka untuk diterima, dipandukan dan diterapkan. Penerimaan secara utuh serta penerapannya secara baik dan benar merupakan bukti Iqomatuddien yang diperintahkan Allah dan dijanjikanNya menurut ketetapan sunnah. Read More

Merajut Sejarah Dalam Menyongsong Janji Allah

Posted by | Artikel | No Comments

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan berqabilah – qabilah supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Qs.49:13)

Manusia yang saat ini tersebar di permukaan bumi, pada awalnya adalah berasal dari sepasang manusia pertama yang diciptakan Allah SWT, yaitu Nabi Adam dan istrinya Hawa. Kemudian atas kehendakNya terbagi – bagi menjadi berbagai bangsa, kabilah, bahasa dan warna kulit. Kemudian pada tiap – tiap umat selalu diutus Allah RasulNya agar mereka mengikuti petunjuk hidup yang benar dan membawa keselamatan di dunia dan akhirat.

Dalam perjalanan masa, maka terciptalah jarak dan ruang antara kelompok manusia yang dapat menjadi sekat dan peluang untuk saling bermusuhan satu sama lain. Maka Allah utus RasulNya yang terakhir, Muhammad SAW, dengan risalah Islam yang mengajak manusia kepada satu tujuan hidup (mengabdi padanya), satu aqidah, dan satu syariat ibadah serta berkasih sayang menuju ketaqwaan pada Rabb (Qs. 4:1). Pada akhir perjalanan hidupnya di dunia masing – masing manusia akan mendapat penilaian dari Allah berdasarkan kemampuan berta’aruf (interaksi positif) dan kualitas ketaqwaannya. Read More

Koreksi Ilmiah Terhadap Politik

Posted by | Artikel | No Comments

Istilah politik dengan siyasah umumnya ditafsirkan sama saja makna antara keduanya, hanya berbeda sumber bahasanya saja. Hanya saja jika secara cermat diteliti, maka jelas diantara keduanya terdapat sifat antagonistic.

Keberadaan Sifat Antagonistic
Sesungguhnya “politik” yang dicetuskan Plato murid Socrates pada 400 tahun sebelum masehi, berpijak dari sejarah Yunani kuno yang diangkat pemerintahan bangsa Eropa (barat) sebagai falsafah hidup dengan Plato sebagai guru besarnya. Maka juga berarti penentangan terhadap Filsafat Plato sebagai serangan terhadap basis kultur dan filsafat barat (western). Inti ajaran plato adalah superioritas kaum pria, inferioritas kaum wanita, dan pelecehan terhadap kaum terdidik (pemuka agama ; pemimpin persatuan dagang). Konsep inilah yang menjadi dasar berdirinya PBB yang memisahkan antara agama dengan Negara.

Kenyataan yang pasti adalah konsep tentang kemurnian ras, sehingga bangsa-bangsa barat merasa sebagai “ras unggulan”, kemudian menindas bangsa semit dan seluruh bangsa berkulit hitam. Selain mereka dianggap makhluk kotor yang boleh dibasmi. Dengan demikian orang – orang kafir dari bangsa barat senantiasa berupaya menjajah bangsa – bangsa asia dan afrika.

Demikianlah sebuah kenyataan berdasarkan fakta sejarah, oleh karena itu langkah perjuangan Umat Islam wajib menapakkan kakinya pada kaidah siyasah dan bukan filsafat politik. Kita tidak boleh melupakan fakta sejarah, sehingga dengan itu dapatlah kita meletakkan kedudukan Al Quran secara benar. Read More

قُلۡ إِن كُنتُمۡ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحۡبِبۡكُمُ ٱللَّهُ وَيَغۡفِرۡ لَكُمۡ ذُنُوبَكُمۡ‌ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌ۬ رَّحِيمٌ۬
(Qs.3:31)